Langsung ke konten utama

WANTED: PEMIMPIN QUR'ANI

oleh : Siti Rodlika Musyafa'ah S. Psi.
Alumni Universitas Muhammadiyah Gresik

Beberapa waktu lalu, Ikatan Dai Aceh mengundang dua kandidat calon Presiden RI untuk uji baca Al Quran.
"Tes baca Al Quran bagi seorang calon pemimpin yang beragama Islam sangat wajar dan sangat demokratis. Justru publik makin tahu kualitas calonnya," ujar Ridlwan Habib peneliti radikalisme dan gerakan Islam di Jakarta. (tribunnews.com)
"Kami akan mengundang kedua pasangan calon untuk mengikuti uji mampu membaca Alquran. Tes membaca Al Quran, Surat Al-Fatihah dan surat pendek lainnya akan dilaksanakan di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada tanggal 15 Januari 2019," kata Ketua Dewan Ikatan Dai Aceh Tgk Marsyuddin (merdeka.com). Wacana tes baca Al Qur'an bagi calon pemimpin negara ini terus bergulir.

Di tahun 2019 akan ada penentuan siapa yang akan menjadi pemimpin Indonesia berikutnya. Yang diharapkan adalah pemimpin yang akan membawa kesejahteraan Indonesia. Akankah tetap dengan pemimpin yang sama seperti 5 tahun sebelumnya? Apakah akan ada pergantian kepemimpinan? Telah ada dua kandidat calon presiden Republik Indonesia (RI). Kedua kandidat presiden tersebut sama-sama muslimnya.

Karena hal tersebut, Ikatan DAI Aceh beriinisiatif mengundang dua kandidat presiden RI tersebut untuk uji baca qur'an. Ridlwan Habib, peneliti radikalisme dan gerakan Islam di Jakarta, menyatakan pada tribunnews.com, tes baca qur'an bagi calon pemimpin yang muslim adalah hal yang wajar, dan publik menjadi tahu kualitas calonnya. Apakah hal ini menunjukkan bahwa pemimpin harus bisa baca qur'an? Dari sini dapat dikatakan seolah-olah Al-Qur'an hanya alat politik, melihat kualitas calon pemimpin dari bacaan al-qur'annya.

Sejatinya seorang pemimpin bukan hanya sekedar mampu untuk membaca Al-Qur'an, tetapi juga mampu mengamalkan isi Al-Qur'an secara keseluruhan. Al-qur'an adalah wahyu Allah yang sekaligus petunjuk hidup yang wajib bagi setiap muslim untuk mengamalkan isinya secara menyeluruh.
Kita sebagai umat manusia yang tinggal di bumi milik Allah. Maka sejatinya kita menerapkan hukum-hukum Allah dalam setiap aktivitas kita di bumi Allah ini, termasuk dalam hal kepemimpinan umat. Kita akan dimintai pertanggungjawaban terhadap pilihan pemimpin kita. Seorang pemimpin juga akan dimintai pertanggung jawaban oleh oleh berkaitan kepemimpinannya. Apakah sesuai dengan aturan Nya ataukah sebaliknya.

Maka, jika memilih pemimpin bukan hanya mampu membaca al-qur'an dengan baik. Tapi juga pemimpin yang juga mampu menerapkan atau mengamalkan isi al-qur'an secara menyeluruh dalam setiap aktivitas kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NEGARA KAPITALISTIK-KOMUNIS GAGAL MENJADI PANGLIMA ATASI EPIDEMI VIRUS CORONA

Oleh: Citra Yanuary A. S., SS Aliansi Penulis Rindu Islam Virus Corona Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) pada Selasa (11/2/2020) mengumumkan bahwa " Covid-19" menjadi nama resmi baru untuk coronavirus yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan, China pada 31 Desember 2019. "Co" berarti "corona", "vi" untuk "virus", dan "d" untuk "disease (penyakit)". Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, nama itu telah dipilih untuk menghindari referensi ke lokasi geografis tertentu, spesies hewan, atau sekelompok orang sesuai dengan rekomendasi internasional untuk penamaan dan menghindari stigmatisasi. WHO sebelumnya memberi virus nama sementara "penyakit pernapasan akut 2019-nCoV" dan Komisi Kesehatan Nasional China Minggu ini mengatakan bahwa sementara waktu menyebutnya "novel coronavirus pneumonia" atau NCP. (https://www.kompas.com/tren/read/2020/02/12/063200865/ini-alasan-who-memberi...

2019, MENYONGSONG ERA PERUBAHAN SEJATI

Oleh: Ani Susilowati S. pd. Aliansi Penulis Rindu Islam Nabi Muhammad SAW bersabda, "Umat Islam itu laksana satu tubuh. Satu bagian mengokohkan bagian tubuh lainnya. Setiap tubuh mempunyai darah yang menyebabkan seseorang menjadi sehat, darah yang bersih dan baik. Apabila seseorang kekurangan darah, atau bahkan kehabisan darah, maka ia akan menjadi lemas, tidak dapat bangkit dan beraktivitas secara normal. Kehidupannya kemudian menjadi beban bagi orang lain. Demikian halnya keadaan umat Islam saat ini. Bangsa kita dalam keadaan menderita, sakit, dan lemah. Realitas kekinian menunjukkan bahwa tubuh tersebut kini tengah dilanda sakit kronis. Hampir setiap anggota tubuh mengalaminya. Tubuh umat saat ini terkoyak dan jalannya terseok-seok. Sedih, pedih, dan perih. Mungkin itulah kata-kata yang bisa mewakili ragam duka, luka, dan nestapa bangsa ini akibat musibah yang bertubi-tubi. Belum reda duka lombok akibat gempa, muncul duka baru gempa palu, muncul lagi tsunami Banten, belum la...

MENAGIH JANJI PEMIMPIN NEGERI

Ol eh : Anis zakiyatul mukaromah Aliansi Penulis Cinta Islam Tahun silih berganti, periode menjabat akan diakhiri, namun masih banyak janji yang belum ditepati. Wajar jika rakyat merasa dikhianati. Apalagi masih kita ingat bersama fatwa MUI yang mengharamkan memilih pemimpin ingkar janji. Hampir 4 tahun sudah rezim ini menjabat. Namun masih banyak tugas dan janji yang belum terpenuhi, mulai dari segi ekonomi, sosial, hingga politik. Misalkan dari segi sosial, presiden menjanjikan fasilitas keuangan untuk perumahan agar generasi milenials memiliki rumah sendiri. Bahkan ia mengatakan fasilitas keuangan perumahan itu disubsidi APBN sehingga memudahkan keluarga muda untuk mendapat perumahan. Padahal, melihat fakta saat ini yang lebih membutuhkan bantuan rumah adalah para korban bencana alam. Terutama yang di lombok, mereka sudah dijanjikan akan diberikan dana siap pakai untuk memperbaiki rumah mereka. Hal ini tertuang dalam Instruksi presiden Republik Indonesia (Inpres RI) nomor 5/2018 ...