Langsung ke konten utama

Petani Ku Sayang, Petani Ku Malang

Oleh: Siti Farihatin, S.Sos
(Aliansi Penulis Rindu Islam)

Kementerian Perdagangan memastikan Indonesia akan kedatangan 60 ribu ton jagung impor hingga Maret 2019. Jumlah ini diperoleh setelah pemerintah memutuskan menambah impor jagung untuk kebutuhan pakan ternak sebanyak 30 ribu ton, Februari mendatang. Kabar ini dikutip dari tirto.id.

Tidak hanya impor beras dan jagung, pemerintah bahkan akan mengimpor gula dengan jumlah yang sangat fantastik. Faisal Basri menyebut Indonesia duduk di urutan pertama dengan mengimpor sekitar 4,45 juta metrik ton gula selama periode 2017/2018. Volume ini melebihi impor gula China sebesar 4,2 juta metrik ton dan AS yang mencapai 3,11 juta metrik ton. Dengan volume impor gula Indonesia ini, maka Indonesia menjadi satu-satunya negara pengimpor gula terbesar di dunia. Sungguh fantastik.

Di satu sisi ada ribuan petani dari sejumlah daerah yang berunjuk rasa ke Jakarta. Mereka frustasi karena harga gula di tingkat saat ini dianggap terlalu rendah, yakni hanya Rp 9.700/kg, jauh di bawah biaya pokok produksi (BPP) Rp 10.600/kg. Di sisi lain, rendahnya harga ini membuat gula mereka belum juga laku dan masih tersimpan di gudang pabrik gula (PG). Di depan Istana Negara, mereka meluapkan kekesalannya dengan membuang gula rafinasi impor di jalanan. Gula putih tersebut dilempar ke jalanan dengan tangan dari karung seberat 100 kg. Sungguh miris, ketika petani berharap tanaman yang mereka tanam akan menghasilkan sesuatu yang dapat mencukupi kebutuhan hidup dan menutup biaya selama bertani sirna dan lenyap sudah. Harapan tinggal harapan, karena rendahnya harga hasil pertanian yang sudah digantikan dengan barang-barang import menjadikan mereka putus asa. Bahkan sampai ada yang membunag-buang gula import di depan Istana sebagai bentuk protes karena import memang merugikan petani lokal.

Dalam Islam ketika negara akan mengimport suatu barang, maka perlu menelaah beberapa keadaan, diantaranya:
1. Pilihlah barang yang benar-benar dibutuhkan untuk diimpor
2. Hindari mengimpor barang-barang yang dapat diproduksi lokal. Hal ini agar industri lokal tetap berkembang dan tidak terjadi ketergantungan terhadap barang impor.
3. Hindari bentuk pembayaran Ribawi ketika melaksanakan transaksi
Negara di sini mempunyai kebijakan dalam menentukan setiap tindakan, dan seharusnya apa yang menjadi langkah negara harus lebih memprioritaskan kesejahteraan petani lokal bukan hanya prioritas yang lain. Dengan import barang yang sejatinya di dalam negeri masih mampu untuk mengcovernya, maka hal itu tidak perlu dilakukan karena dampak bagi petani sendiri akan merugi. Fungsi negara adalah mengayomi penduduknya dan memberikan kesejahteraan bagi penduduk lokal, jangan mengabaikan mereka apalagi mengadaikan mereka. (Wallahu'alam)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NEGARA KAPITALISTIK-KOMUNIS GAGAL MENJADI PANGLIMA ATASI EPIDEMI VIRUS CORONA

Oleh: Citra Yanuary A. S., SS Aliansi Penulis Rindu Islam Virus Corona Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) pada Selasa (11/2/2020) mengumumkan bahwa " Covid-19" menjadi nama resmi baru untuk coronavirus yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan, China pada 31 Desember 2019. "Co" berarti "corona", "vi" untuk "virus", dan "d" untuk "disease (penyakit)". Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, nama itu telah dipilih untuk menghindari referensi ke lokasi geografis tertentu, spesies hewan, atau sekelompok orang sesuai dengan rekomendasi internasional untuk penamaan dan menghindari stigmatisasi. WHO sebelumnya memberi virus nama sementara "penyakit pernapasan akut 2019-nCoV" dan Komisi Kesehatan Nasional China Minggu ini mengatakan bahwa sementara waktu menyebutnya "novel coronavirus pneumonia" atau NCP. (https://www.kompas.com/tren/read/2020/02/12/063200865/ini-alasan-who-memberi...

2019, MENYONGSONG ERA PERUBAHAN SEJATI

Oleh: Ani Susilowati S. pd. Aliansi Penulis Rindu Islam Nabi Muhammad SAW bersabda, "Umat Islam itu laksana satu tubuh. Satu bagian mengokohkan bagian tubuh lainnya. Setiap tubuh mempunyai darah yang menyebabkan seseorang menjadi sehat, darah yang bersih dan baik. Apabila seseorang kekurangan darah, atau bahkan kehabisan darah, maka ia akan menjadi lemas, tidak dapat bangkit dan beraktivitas secara normal. Kehidupannya kemudian menjadi beban bagi orang lain. Demikian halnya keadaan umat Islam saat ini. Bangsa kita dalam keadaan menderita, sakit, dan lemah. Realitas kekinian menunjukkan bahwa tubuh tersebut kini tengah dilanda sakit kronis. Hampir setiap anggota tubuh mengalaminya. Tubuh umat saat ini terkoyak dan jalannya terseok-seok. Sedih, pedih, dan perih. Mungkin itulah kata-kata yang bisa mewakili ragam duka, luka, dan nestapa bangsa ini akibat musibah yang bertubi-tubi. Belum reda duka lombok akibat gempa, muncul duka baru gempa palu, muncul lagi tsunami Banten, belum la...

MENAGIH JANJI PEMIMPIN NEGERI

Ol eh : Anis zakiyatul mukaromah Aliansi Penulis Cinta Islam Tahun silih berganti, periode menjabat akan diakhiri, namun masih banyak janji yang belum ditepati. Wajar jika rakyat merasa dikhianati. Apalagi masih kita ingat bersama fatwa MUI yang mengharamkan memilih pemimpin ingkar janji. Hampir 4 tahun sudah rezim ini menjabat. Namun masih banyak tugas dan janji yang belum terpenuhi, mulai dari segi ekonomi, sosial, hingga politik. Misalkan dari segi sosial, presiden menjanjikan fasilitas keuangan untuk perumahan agar generasi milenials memiliki rumah sendiri. Bahkan ia mengatakan fasilitas keuangan perumahan itu disubsidi APBN sehingga memudahkan keluarga muda untuk mendapat perumahan. Padahal, melihat fakta saat ini yang lebih membutuhkan bantuan rumah adalah para korban bencana alam. Terutama yang di lombok, mereka sudah dijanjikan akan diberikan dana siap pakai untuk memperbaiki rumah mereka. Hal ini tertuang dalam Instruksi presiden Republik Indonesia (Inpres RI) nomor 5/2018 ...