Langsung ke konten utama

DATA BOHONG Di DEBAT CAPRES

oleh: Anis Zakiyatul M.
Aliansi Penulisa Rindu Islam

Debat kedua calon presiden tuntas digelar pada Ahad malam, tanggal 17 februari 2019. Banyak hal yang menjadi perhatian publik mulai dari pelafalan kata unicorn, kepemilikan lahan Prabowo, dugaan penggunaan alat bantu earpiece dan pena, hingga penyampaian data yang tidak valid oleh Jokowi.

Dari beberapa hal diatas yang masih hangat di perbincangkan hingga hari ini adalah transparansi data Jokowi saat debat. Mereka yang awam mungkin akan terpesona pada data-data yang disampaikan petahana untuk menguatkan jawaban dan membantah pihak lawan. Sayangnya, yang tidak diketahui mereka yang tidak paham berita adalah kebenaran dari data-data tersebut. Ada beberapa isu yang sudah disampaikan ke publik, akan tetapi datanya tidak valid. Karena fakta dilapangan bertolak belakang 180 derajat dengan data yang disajikan Jokowi pada saat debat.

Mari kita ingat lagi beberapa data yang telah disampaikan Jokowi pada saat debat dan diklaim sebagai prestasi. Pertama, Jokowi menyebut tak ada lagi kebakaran hutan dan lahan dalam 3 tahun terakhir. Faktanya, menurut data BNPB kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tahun 2016 sebanyak 178 kali, tahun 2017 96 kali, tahun 2018 370 kali, bahkan di tahun 2019 sampai bulan februari ini saja sudah 5 kali kejadian karhutla. Maka terbantahlah data yang sudah disampaikan Jokowi. Dan satu hal lagi yang membuat publik geram adalah bahwa Jokowi lupa kalau dia pernah selfie di area kebakaran hutan.

Kedua, Jokowi menyebut telah bertindak tegas mengenai masalah kebakaran lahan di Indonesia. Bahkan Ia juga mengungkapkan sudah ada sebelas perusahaan yang diberikan sanksi dan denda sebesar Rp 18,3 triliun.
Adapun sebelas perusahaan yang melakukan pelanggaran dan mendapatkan sanksi adalah PT Merbabu Pelalawan Lestari Rp 16,2 triliun, PT National Sago Prima Rp 1,07 triliun, PT Jatim Jaya Perkasa Rp 491 milar, PT Waringin Argo Jaya Rp 466, 5 miliar, PT Kallista Alam Rp 366 miliar, PT Ricky Kurniawan Kertapersada Rp 191 miliar, PT Bumi Mekar Hijau Rp 78 miliar, PT Waimusi Agroindah Rp 29 miliar, PT Palmina Utama Rp 22,3 miliar, PT Argo Tumbuh Gemilang Abasi dan PT Surya Panen Subur. Keduanya masih dalam proses pengadilan.

Faktanya menurut Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Green Peace Indonesia dalam akun twitter resminya, @GreenpeaceID menyebut belum ada diantara sebelas perusahaan itu yang membayar ganti rugi ke negara sepeserpun.

Ketiga, Jokowi mengatakan tak ada konflik agraria di masyarakat. Terutama pada saat pembebasan lahan untuk proyek pembangunan infrastruktur.
Faktanya menurut Dewi Kartika, Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), menyatakan konflik tanah menyebar di seluruh Indonesia, didominasi oleh Riau, Sumatra Utara dan Jawa Barat sejak 2014. Pada akhir tahun 2018, Riau menyumbang 42 konflik, Sumatra Utara 23 konflik dan Jawa Barat.
KPA juga mencatat letusan konflik agraria periode 2014-2018 menimbulkan banyak korban di antaranya adalah 41 orang diduga tewas, 546 dianiaya, 51 orang tertembak, dan sedikitnya 940 petani dan aktivis dikriminalisasi.
Bahkan tiga besar penyumbang konflik agraria salah satunya adalah dari sektor infrastruktur dengan 94 konflik (14 persen) dari seluruh jumlah kejadian konflik.

Berdasarkan beberapa fakta diatas, maka data yang disampaikan Jokowi adalah bohong. Bagaimana seorang pemimpin bisa memberikan data hoaks pada saat debat, dimana acara itu di saksikan oleh seluruh rakyat Indonesia. Data memang di butuhkan dalam menguatkan argument namun bukan data bohong seperti ini.

Dalam KBBI, bohong adalah tidak sesuai dengan hal (keadaan dsb.) yang sebenarnya; dusta. Sedangkan menurut Wikipedia Bahasa Indonesia bohong adalah pernyataan yang salah dibuat oleh seseorang dengan tujuan pendengar percaya. Orang yang berbicara bohong dan terutama orang yang mempunyai kebiasaan berbohong disebut pembohong.

Dalam sistem demokrasi, antara pemimpin dan sikap bohong itu seolah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sebelum menjadi pemimpin, mereka bermanis muka, mengumbar janji. Setelah jadi pemimpin, mereka seketika lupa. Karena bagi mereka yang terpenting adalah mendapat suara sebanyak-banyaknya. Tanpa peduli lagi akan pahala atau dosa, padahal berbohong merupakan perbuatan tercela serta masuk dalam kategori munafik.

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda, "Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanah dia berkhianat"(HR. Al- Bukhari).

Di dalam Islam, seorang pemimpin harus bisa memberikan keteladanan dalam kesesuaian ucapan dan perbuatan karena semua akan dipertanggungjawabkan. Selain itu juga harus takut kepada Allah swt, agar senantiasa menjalankan tugas dan tanggungjawab nya sebagai pemimpin berdasarkan aturan Islam. Sehingga saat membuat kebijakan, baik kebijakan dalam negeri maupun luar negeri, ditujukan untuk kepentingan kaum muslim dan syiar Islam. Bagaimana agar hukum-hukum Islam bisa terealisasi dengan baik, dijalankan oleh seluruh masyarakat dalam negara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NEGARA KAPITALISTIK-KOMUNIS GAGAL MENJADI PANGLIMA ATASI EPIDEMI VIRUS CORONA

Oleh: Citra Yanuary A. S., SS Aliansi Penulis Rindu Islam Virus Corona Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) pada Selasa (11/2/2020) mengumumkan bahwa " Covid-19" menjadi nama resmi baru untuk coronavirus yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan, China pada 31 Desember 2019. "Co" berarti "corona", "vi" untuk "virus", dan "d" untuk "disease (penyakit)". Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, nama itu telah dipilih untuk menghindari referensi ke lokasi geografis tertentu, spesies hewan, atau sekelompok orang sesuai dengan rekomendasi internasional untuk penamaan dan menghindari stigmatisasi. WHO sebelumnya memberi virus nama sementara "penyakit pernapasan akut 2019-nCoV" dan Komisi Kesehatan Nasional China Minggu ini mengatakan bahwa sementara waktu menyebutnya "novel coronavirus pneumonia" atau NCP. (https://www.kompas.com/tren/read/2020/02/12/063200865/ini-alasan-who-memberi...

2019, MENYONGSONG ERA PERUBAHAN SEJATI

Oleh: Ani Susilowati S. pd. Aliansi Penulis Rindu Islam Nabi Muhammad SAW bersabda, "Umat Islam itu laksana satu tubuh. Satu bagian mengokohkan bagian tubuh lainnya. Setiap tubuh mempunyai darah yang menyebabkan seseorang menjadi sehat, darah yang bersih dan baik. Apabila seseorang kekurangan darah, atau bahkan kehabisan darah, maka ia akan menjadi lemas, tidak dapat bangkit dan beraktivitas secara normal. Kehidupannya kemudian menjadi beban bagi orang lain. Demikian halnya keadaan umat Islam saat ini. Bangsa kita dalam keadaan menderita, sakit, dan lemah. Realitas kekinian menunjukkan bahwa tubuh tersebut kini tengah dilanda sakit kronis. Hampir setiap anggota tubuh mengalaminya. Tubuh umat saat ini terkoyak dan jalannya terseok-seok. Sedih, pedih, dan perih. Mungkin itulah kata-kata yang bisa mewakili ragam duka, luka, dan nestapa bangsa ini akibat musibah yang bertubi-tubi. Belum reda duka lombok akibat gempa, muncul duka baru gempa palu, muncul lagi tsunami Banten, belum la...

MENAGIH JANJI PEMIMPIN NEGERI

Ol eh : Anis zakiyatul mukaromah Aliansi Penulis Cinta Islam Tahun silih berganti, periode menjabat akan diakhiri, namun masih banyak janji yang belum ditepati. Wajar jika rakyat merasa dikhianati. Apalagi masih kita ingat bersama fatwa MUI yang mengharamkan memilih pemimpin ingkar janji. Hampir 4 tahun sudah rezim ini menjabat. Namun masih banyak tugas dan janji yang belum terpenuhi, mulai dari segi ekonomi, sosial, hingga politik. Misalkan dari segi sosial, presiden menjanjikan fasilitas keuangan untuk perumahan agar generasi milenials memiliki rumah sendiri. Bahkan ia mengatakan fasilitas keuangan perumahan itu disubsidi APBN sehingga memudahkan keluarga muda untuk mendapat perumahan. Padahal, melihat fakta saat ini yang lebih membutuhkan bantuan rumah adalah para korban bencana alam. Terutama yang di lombok, mereka sudah dijanjikan akan diberikan dana siap pakai untuk memperbaiki rumah mereka. Hal ini tertuang dalam Instruksi presiden Republik Indonesia (Inpres RI) nomor 5/2018 ...